Cinta, seperti diketahui, memainkan peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Sebab, cinta merupakan landasan kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga,dan pemeliharaan anak-anak.Selain itu, cinta juga merupakan landasan hubungan yang erat di masyarakat dan pembentukan hubungan manusiawi yang akrab. Juga, ia merupakan pengikat yang kukuh dalam hubungan antara manusia dan Tuhan dan membuatnya ikhlas dalam menyembah-Nya, meniti jalan-Nya, dan berpegang teguh dengan segala sesuatu yang dititahkan dan dilarang oleh-Nya.
Dalam Islam, puncak cinta manusia yang paling bening, jernih, dan ruhaniah adalah cinta kepada Allah Swt. dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doa, tetapi juga dalam semua tindakan dan semua perilakunya. Dengan kata lain, semua perilaku dan tin-dakannya ditujukan kepada Allah Swt. mengharap pene-rimaan dan ridha-Nya. Cinta manusia kepada Allah Swt. tersebut dengan sendirinya harus melebihi cintanya pada segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, istrinya, anak-anaknya, kedua orangtuanya, keluarganya, dan hartanya.
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Dari Anas RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Tiga (perkara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Dan siapa yang bila mencintai seseorang, dia tidak mencintai orang itu kecuali karena Allah. Dan siapa yang benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam Piramida Cinta itu, ada cinta tertinggi kepada Allah, Rasulullah dan seterusnya. Kalaupun toh ada kisah cinta seorang laki-laki kepada perempuan, maka semestinya cinta itu tetap suci, sesuai rambu-rambu syariat. Jangan sampai cinta itu berubah menjadi syahwat. Karena ada perbedaan antara cinta dengan syahwat. Kalau cinta pasti suci, baik dan mendatangkan pahala, tapi kadang orang merusak cinta menjadi syahwat.
Cinta yang ikhlas dari seorang manusia kepada Allah Swt. akan membuat cinta itu menjadi motivasi yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaannya yang lain. Cinta kepada Allah Swt. tersebut sejatinya juga akan membuatnya menjadi seseorang yang mencintai sesama manusia, hewan, makhluk Allah, dan seluruh semesta alam. Sebab, dalam pandangannya, semua wujud yang ada di sekelilingnya merupakan manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan pelbagai kerinduan ruhaniahnya dan harapannya.
(From Wangi Akhlak Nabi & Ayat-ayat cinta)